Apa Itu Top Funnel? Fungsi, Cara Kerja, dan Strategi

By Reyazandi

Dalam pemasaran, brand tidak bisa hanya mengandalkan audiens lama. Ada masanya audiens yang sama sudah jenuh, tidak bertambah, dan akhirnya pertumbuhan ikut berhenti.

Karena itu, brand perlu aktif mencari audiens baru. Ini bagian yang sering dilewatkan, padahal tanpa audiens baru, performa iklan dan konten pelan-pelan akan turun. 

Mau seberapa bagus pun penawarannya, kalau yang melihat itu-itu saja, hasilnya tidak akan berubah.

Masalahnya, banyak strategi langsung mengejar penjualan tanpa memikirkan cara memperluas jangkauan dulu. 

Lalu bagaimana brand bisa berharap mendapatkan penjualan lebih banyak kalau audiens barunya saja tidak bertambah?

Di sinilah fungsi top funnel terlihat. Tahap ini membantu brand menjangkau orang baru, memperkenalkan diri, dan menambah “pool” audiens sebelum mereka masuk ke tahap pertimbangan dan pembelian.

Apa Itu Top Funnel

Top funnel adalah tahap paling awal dalam perjalanan konsumen ketika sebuah brand mulai muncul di radar audiens. 

Pada fase ini, audiens belum mencari produk tertentu, belum membandingkan solusi, dan belum tertarik pada penawaran apa pun. 

Tugas Top Funnel untuk brand di sini hanya muncul dulu.

Top funnel dipakai untuk mengumpulkan audiens sebanyak mungkin yang masih relevan dengan produk atau masalah yang ingin diselesaikan. 

Kontennya biasanya edukatif, informatif, atau sekadar membantu audiens memahami topiknya dulu.

Kalau tahap ini berjalan baik, audiens akan mulai mengenal brand dan lebih mudah lanjut ke tahap berikutnya seperti interest atau consideration.

Top funnel juga dapat dipahami sebagai proses membangun persepsi pertama terhadap brand. 

Jika persepsi awal terbentuk dengan baik, peluang audiens untuk melanjutkan perjalanan ke mid atau bottom funnel akan meningkat. 

Sebaliknya, jika brand tidak hadir di tahap ini, audiens akan dengan mudah beralih ke kompetitor yang lebih aktif membangun awareness sejak awal.

Mengapa Top Funnel Penting

Top funnel penting karena brand harus dikenal dulu sebelum berharap ada penjualan. Kalau tahap pengenalan ini tidak ada, audiens tidak punya alasan untuk memperhatikan informasi selanjutnya.

Kebiasaan konsumen sekarang juga berbeda. Mereka butuh beberapa kali melihat konten, mencari informasi, atau sekadar memahami topiknya dulu sebelum tertarik lebih jauh.

Jadi top funnel memberi ruang bagi audiens untuk mengenal brand tanpa ada unsur jualan.

Jika tahap awal ini berjalan dengan baik, audiens yang masuk ke tahap berikutnya sudah punya rasa ingin tahu dan ketertarikan awal.

Dampaknya, proses di mid funnel dan bottom funnel jadi lebih mudah karena audiens sudah paham kamu itu siapa dan bergerak di kategori apa.

Sederhananya, top funnel adalah fondasi. Tanpa fondasi ini, strategi pemasaran yang lain sering tidak memberi hasil yang maksimal.

Bagaimana Cara Kerja Top Funnel

Top funnel bekerja dengan menarik perhatian audiens yang sebelumnya belum mengenal brand. Konten pada tahap ini dibuat untuk membantu audiens memahami isu atau kebutuhan yang berkaitan dengan kategori produk, bukan untuk mempromosikan produk secara langsung.

Tujuannya hanya memastikan brand muncul lebih dulu sebelum audiens mulai mencari atau membandingkan sesuatu.

Saat audiens menemukan konten tersebut, mereka mulai menghubungkan brand dengan topik yang sedang dipelajari.

Dari sini muncul ketertarikan awal yang kemudian bisa diarahkan ke tahap pertimbangan. Mekanisme inilah yang membuat top funnel menjadi gerbang awal sebelum komunikasi yang lebih dalam di tahap berikutnya.

Manfaat Top Funnel

Top funnel membantu memperluas jangkauan brand dengan cara yang terarah. Audiens yang sebelumnya tidak mengenal brand mulai memahami isu, konteks, atau kategori produk yang sedang dibahas.

Hal ini membuat brand lebih mudah masuk dalam radar pencarian ketika audiens membutuhkan informasi lanjutan.

Tahap ini juga mempermudah proses komunikasi di bagian funnel berikutnya.

Ketika audiens sudah mengenal brand sejak awal, pesan-pesan yang bersifat pertimbangan atau evaluasi akan lebih mudah diterima.

Dampaknya terlihat pada interaksi yang lebih tinggi, waktu belajar yang lebih cepat, dan proses pengambilan keputusan yang lebih lancar.

Cara Paling Masuk Akal Menjalankan Top Funnel

Top funnel perlu dijalankan dengan cara yang berbeda dari tahap penjualan.

Fokusnya bukan membuat orang membeli, tetapi membuat mereka mengenal brand terlebih dahulu.

Konten yang dipakai harus memberi nilai, seperti edukasi ringan, informasi sederhana, atau hiburan yang relevan.

Langkah awal yang penting adalah memahami apa yang dibutuhkan audiens. Mulainya dari masalah mereka, bukan dari promosi.

Untuk bisnis yang menyasar konsumen, kontennya biasanya ringan dan mudah dipahami. Untuk bisnis B2B, konten seperti riset, data, atau analisis industri sering lebih efektif.

Pada tahap ini, brand boleh meminta informasi dasar seperti email sebagai langkah lanjutan. Namun tetap gunakan CTA ringan.

Contohnya:

  • baca artikel berikutnya,
  • lihat penjelasan lengkap,
  • cek panduan lanjutan.

CTA seperti ini membantu audiens bergerak ke tahap berikutnya tanpa merasa sedang diarahkan untuk membeli.

Dengan pendekatan ini, top funnel bisa berjalan lebih natural dan membuat audiens siap masuk ke mid funnel ketika mereka sudah tertarik.

Perbedaan Top Funnel dan Bottom Funnel

Top funnel adalah tahap ketika brand mulai muncul di hadapan audiens. Konten yang digunakan biasanya ringan, informatif, atau menghibur agar audiens mengenal topik dasarnya terlebih dahulu.

Tujuan utamanya adalah membangun perhatian awal tanpa mendorong penjualan.

Bottom funnel itu berbeda. Pada tahap ini, audiens sudah paham konteks dan sedang menilai solusi yang tepat.

Konten yang digunakan biasanya lebih konkret, seperti testimonial, case study, demo, atau penawaran yang membantu mereka mengambil keputusan.

Singkatnya, top funnel membuka interaksi, sedangkan bottom funnel membantu mengarahkan audiens pada pembelian. Keduanya saling melengkapi dalam perjalanan konsumen.

Perbedaan Top Funnel dan Bottom Funnel

Top funnel adalah tahap ketika brand hanya fokus membangun perhatian dan pengenalan.

Tidak ada penawaran, tidak ada ajakan membeli, dan tidak ada pesan yang mengarah pada transaksi. Tujuannya hanya membuat audiens tahu bahwa brand tersebut ada dan memahami topik dasarnya.

Bottom funnel itu kebalikannya. Pada tahap ini, audiens sudah paham konteks dan sedang menilai apakah sebuah produk cocok untuk mereka.

Konten yang digunakan pun lebih langsung, seperti bukti hasil, contoh penggunaan, atau penjelasan produk yang lebih spesifik.

Jadi garis besarnya sederhana: top funnel membangun awareness, bottom funnel mendorong keputusan. Tidak boleh tertukar karena perannya berbeda.

Cara Mengukur Kinerja Top Funnel

Kinerja top funnel tidak diukur dari berapa banyak orang yang membeli. Di tahap ini, fokusnya adalah seberapa banyak orang yang melihat, tertarik, dan mulai aware dengan brand.

Jadi metrik yang dipakai pun berbeda dengan metrik di tahap penjualan.

Beberapa metrik yang umum digunakan di top funnel antara lain:

  • Jumlah tayangan (impressions)
    Mengukur seberapa sering konten atau iklan tampil di depan audiens. Semakin tinggi, semakin besar peluang brand dikenali.
  • Jangkauan audiens (reach)
    Mengukur berapa banyak orang unik yang melihat konten. Ini membantu melihat seberapa luas awareness yang tercipta, bukan hanya seberapa sering ditampilkan.
  • Klik dan click-through rate (CTR)
    Mengukur berapa banyak orang yang tertarik untuk tahu lebih jauh dan mengklik. CTR menunjukkan seberapa relevan judul, visual, dan pesan awal yang disampaikan.
  • Pengunjung baru ke website
    Menunjukkan seberapa efektif konten top funnel dalam membawa orang yang sebelumnya belum pernah datang ke website.
  • Bounce rate
    Mengukur persentase pengunjung yang langsung pergi tanpa melakukan apa-apa. Jika angkanya terlalu tinggi, bisa jadi konten tidak sesuai dengan ekspektasi audiens yang datang.

Di luar metrik trafik, ada juga indikator lain yang menunjukkan apakah awareness benar-benar terbentuk atau tidak.

Beberapa di antaranya:

  • Engagement di media sosial
    Misalnya like, komentar, share, repost, atau save. Interaksi ini menunjukkan bahwa konten tidak hanya dilihat, tetapi juga dianggap menarik atau bermanfaat.
  • Peningkatan pengikut (followers)
    Jika setelah beberapa kampanye top funnel, jumlah pengikut bertambah secara konsisten, ini bisa menjadi tanda bahwa audiens mulai ingin “dekat” dengan brand.
  • Brand sentiment
    Bisa dilihat dari bagaimana orang menyebut brand di komentar, mention, atau percakapan online. Nada yang positif menunjukkan awareness yang sehat, bukan sekadar ramai tapi penuh keluhan.
  • Pendaftaran newsletter atau form ringan
    Walaupun belum masuk tahap hard selling, pendaftaran email untuk mendapatkan konten lanjutan bisa dianggap sinyal minat awal yang kuat.
  • Unduhan aplikasi (jika relevan)
    Untuk bisnis berbasis aplikasi, unduhan bisa menjadi indikator bahwa audiens tidak hanya aware, tetapi juga mau mencoba masuk ke lingkungan produk.

Yang penting, metrik-metrik ini tidak dilihat secara terpisah. Harus dilihat polanya. Misalnya, tayangan tinggi tetapi CTR sangat rendah berarti banyak orang lihat, tetapi sedikit yang tertarik.

Atau engagement tinggi, tetapi tidak ada pengunjung baru ke website, berarti konten dinikmati, tetapi belum mendorong eksplorasi lebih jauh.

Dengan membaca kombinasi metrik seperti ini, brand bisa menilai apakah top funnel hanya ramai di permukaan atau benar-benar bergerak ke arah yang mendukung funnel berikutnya.

IstilahShort DescriptionBagus Jika…
ImpressionsJumlah total tampilan konten atau iklan.Angkanya tinggi karena menunjukkan pesan awareness tersebar luas.
ReachJumlah orang unik yang melihat konten.Meningkat stabil dan menjangkau audiens baru, bukan orang yang sama berulang kali.
Click-Through Rate (CTR)Persentase orang yang mengklik setelah melihat konten.Angkanya naik, artinya pesan awal cukup menarik untuk ditelusuri.
New VisitorsJumlah pengunjung baru ke website.Mendominasi dibanding returning visitors, tanda awareness berhasil.
Bounce RatePersentase pengunjung yang pergi tanpa aksi.Rendah, menunjukkan konten sesuai ekspektasi audiens.
Social EngagementAktivitas seperti like, komentar, share, atau repost.Meningkat, berarti konten dianggap relevan atau menarik.
Follower GrowthPertambahan jumlah pengikut.Bertambah setelah kampanye berjalan, tanda audiens mulai tertarik mengikuti brand.
Brand SentimentPersepsi audiens terhadap brand di komentar atau mention.Bernada positif dan meningkat dari waktu ke waktu.
Newsletter SignupsPendaftaran email untuk konten lanjutan.Naik, menunjukkan audiens memberi sinyal minat awal.
App DownloadsUnduhan aplikasi dari audiens yang baru mengenal brand.Meningkat stabil, tanda konten awareness mendorong eksplorasi awal.

Contoh Campaign Top Funnel yang Efektif

Campaign top funnel biasanya terlihat dari bagaimana brand memperkenalkan diri dengan konten ringan yang mudah dikonsumsi.

Tujuannya hanya menarik perhatian awal, bukan menjelaskan produk secara detail. Karena itu, konten yang dipakai umumnya sederhana, visual, dan fokus pada kesan pertama.

Salah satu contoh yang sering digunakan brand adalah konten coming soon. Format ini efektif untuk memberi sinyal bahwa ada sesuatu yang baru dan patut ditunggu.

Brand skincare, fashion, atau makanan sering memakai gaya ini agar audiens mulai mengenali nama brand sebelum produk resmi diluncurkan.

Contoh lainnya adalah beauty shoot video yang menonjolkan tampilan produk secara estetik.

Konten seperti ini tidak menjelaskan manfaat produk secara mendalam. Fungsinya hanya membuat audiens ingat visual produk dan mulai terbiasa dengan kehadirannya di berbagai kanal.

Beberapa brand juga menggunakan video singkat behind the scenes, foto konsep, atau teaser produk untuk membangun rasa penasaran.

Konten semacam ini membantu brand masuk ke radar audiens tanpa tekanan untuk membeli. Selama kontennya relevan, ringan, dan konsisten, awareness akan terbentuk secara alami.

Masalah yang Banyak Terjadi di Top Funnel

Banyak brand mengalami kendala pada tahap top funnel karena proses awareness sering terlihat sederhana, padahal membutuhkan pendekatan yang tepat.

Beberapa masalah yang sering muncul ketika menjalankan top funnel adalah:

  • Kontennya bukan konten jualan, sehingga tidak bisa langsung menghasilkan penjualan.
  • Budget yang dibutuhkan lebih besar karena audiensnya masih sangat luas.
  • Biaya makin meningkat karena biasanya menggunakan banyak platform sekaligus.
  • Kurang cocok untuk bisnis kecil yang baru mulai dan membutuhkan hasil cepat.
  • Banyak brand kesulitan membuat konten yang menarik tanpa memasukkan unsur jualan.
  • Target tampil di beranda atau FYP bisa lebih berat karena sifat kontennya yang edukatif.
  • Owner bisnis sering enggan memakai top funnel karena merasa tidak terlihat hasilnya dalam waktu dekat.

Best Practices Top Funnel

Beberapa cara sederhana berikut dapat membantu top funnel berjalan lebih efektif dan relevan dengan kondisi brand yang baru mulai ataupun yang ingin memperluas jangkauan.

  • Coba berbagai jenis hook untuk mencari pembuka yang paling membuat orang berhenti scroll dan mau klik.
  • Selalu sertakan CTA ringan seperti follow, like, share, atau lihat konten lanjutan. CTA seperti ini masih cocok untuk tahap awareness.
  • Uji beberapa format konten sekaligus, seperti video pendek, foto, carousel, atau teaser, untuk melihat mana yang paling menarik perhatian audiens.
  • Jalankan konten di beberapa platform untuk menemukan platform mana yang memberikan hasil paling baik untuk diperbesar skalanya.
  • Gunakan isu atau topik yang sedang ramai dibicarakan, selama masih relevan, agar konten lebih mudah mendapat perhatian.
  • Sering memantau Google Trends atau tren media sosial untuk menemukan pola topik yang sedang naik.
  • Gunakan satu tagline utama agar brand mudah diingat. Jika produk, cukup pilih satu fitur paling kuat sebagai hero feature.
  • Perhatikan angka performa sederhana seperti CTR, CPM, atau engagement rate untuk melihat apakah konten awareness sudah tepat.

Prinsipnya: jalankan, uji, dan lihat datanya. Dari situ brand bisa mengetahui pola apa yang paling cocok untuk menarik audiens di tahap awal.

Top Funnel yang Jelek Itu Seperti Apa

Top funnel yang berjalan buruk biasanya terlihat dari pola performanya. Meskipun konten terlihat ramai di permukaan, hasilnya tidak menunjukkan pertumbuhan yang sehat. Beberapa indikator yang sering muncul antara lain:

  • Konten memiliki banyak penonton, tetapi interaksi seperti like, komentar, atau share sangat rendah. Ini menandakan konten dilihat, tetapi tidak dianggap menarik.
  • Jumlah follower bertambah, tetapi sedikit sekali penonton yang datang dari follower sendiri. Audiens hanya tertarik sekali lalu tidak kembali lagi.
  • Follower banyak, tetapi engagement hampir tidak ada. Ini menunjukkan audiens tidak merasa terhubung dengan konten yang dipublikasikan.
  • Pertumbuhan brand terasa stuck karena audiens baru tidak ingin melihat konten berikutnya. Konten hanya menarik di awal, tetapi gagal membangun ketertarikan berulang.

Indikator-indikator ini menunjukkan bahwa awareness memang terjadi, tetapi tidak menghasilkan minat yang berkelanjutan.
Jika pola ini muncul, konten perlu diperbaiki agar audiens tidak berhenti hanya pada tontonan pertama.

Penutup

Top funnel adalah tahap awal yang membantu brand muncul di hadapan audiens sebelum mereka masuk ke proses pertimbangan.

Tahap ini memang tidak menghasilkan penjualan langsung, tetapi berperan penting membangun perhatian dan pemahaman awal.

Tanpa pondasi ini, perjalanan audiens ke tahap berikutnya akan jauh lebih sulit.

Setiap brand dapat menyesuaikan pendekatan top funnel sesuai kebutuhan dan kondisi bisnis. Yang terpenting adalah konsisten mencoba, melihat data, dan memperbaiki langkah-langkahnya secara berkala.

Mulailah dari bentuk konten yang paling sederhana, lalu kembangkan secara bertahap sesuai hasil yang didapat.

Frequently Asked Questions (FAQ)

1. Apa CTA yang cocok untuk top funnel?
CTA di tahap top funnel bergantung pada tujuan brand dan ajakan ringan yang ingin diberikan kepada audiens. CTA yang biasanya dipakai antara lain visit ke website, follow – share – like media sosial, Ebook Materi gratis yang bisa di download, atau podcast di channel youtube. CTA seperti ini bersifat ringan karena top funnel tidak bertujuan mendorong pembelian.

2. Kesalahan apa saja yang sering terjadi di top funnel?
Kesalahan yang umum adalah menganggap top funnel sebagai tahap penjualan. Banyak brand terlalu banyak memasukkan informasi produk hingga membuat audiens merasa sedang dijual. Top funnel seharusnya menjadi bagian awal untuk membangun brand.

3. Tools apa yang cocok untuk menjalankan top funnel?
Tools yang digunakan sangat bergantung pada industri dan budget. Beberapa yang umum dipakai adalah platform media sosial (organik maupun berbayar), website blog post dan informatif, native ads, serta tools untuk memantau awareness atau brand listening. Format seperti podcast atau video juga bisa digunakan jika sesuai dengan audiens.

4. Apakah top funnel harus selalu menghasilkan leads?
Tidak selalu. Tujuan utama top funnel adalah membangun awareness. Leads bisa muncul, tetapi bukan indikator utama. Yang lebih penting adalah melihat apakah brand makin dikenali dan apakah audiens mulai mengikuti perkembangan konten.

5. Apakah top funnel bisa digabung dengan bottom funnel?
Bisa, tetapi harus tetap dipisahkan tujuannya. Top funnel fokus pada perhatian awal, sedangkan bottom funnel fokus pada keputusan. Brand boleh memakai funnel yang rapat, tetapi pesan untuk setiap tahap tetap harus sesuai fungsinya.